trima kasih sudah mampir di blog saya dan jangan bosan mampir yaaa

Minggu, 23 Juni 2013

Zaman SOCRATES



A.   RIWAYAT SOCRATES
Socrates lahir di Atena pada tahun 470-399 s.M, bapaknya adalah seorang tukang pembuat patung, dan ibunya adalah seorang bidan. Pada awalnya Sokrates mau menuruti jejak bapaknya, yakni menjadi tukang pembuat patung pula, tetapi akhirnya ia berganti haluan dari membentuk batu jadi patung, kini ia membentuk watak manusia.
Socrates dikenal sebagai salah satu figure tradisi filosofis barat yang paling penting yang mengajar Plato dan Plato pada gilirannya juga mengajar Aristoteles. Mengenai riwayat hidup Sokrates sebetulnya tidak banyak diketahui, namun begitu banyak ahli filsafat menemukan biografi melalui sumber utama berkenaan dengan dirinya yang di peroleh dari tulisan-tulisan muridnya, seperti Plato, Aristoteles dll.
            Socrates bergaul dengan semua orang, baik orang tua maupun muda, baik kaya maupun miskin. Ia adalah seorang filsiuf dengan coraknya sendiri, ajaran filosofinya tidak pernah dituliskan, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, kemudian dengan cara hidup.
            Karena populernya, Sokrates yang tak pernah bergambar, tergambar wajahnya dengan sejelas-jelasnya di muka tua dan muda berbagai turunan, dari gambarnya yang terbayang dalam jiwa orang itu kemudian orang membuat patungnya yang serupa sekali dengan wajahnya yang sebenarnya. Tabiatnya sehari-hari adalah berjalan sekeliling kota, mempelajari tingkah laku manusia dari berbagai segi hidupnya, ia bicara dengan segala orang, menanyakan apa yang di buatnya, ia mau mengetahui sesuatu dari orang yang mengerjakannya, ia selalu bertanya, sungguh-sungguh bertanya, karena ia mau tahu. Ia bercakap dengan orang tukang, dia bertanya tentang pertukanganya, dll.
  Pertanyaan itu awalnya mudah dan sederhana, setiap jawaban di susul dengan  pertanyaan baru yang lebih mendalam. Pada akhirnya, orang yang menganggap tahu tadi di hadapkannya kepada tanggung jawab akan tentang pengetahuannya. Tidak jarang terjadi, bahwa dia itu yang mulanya membanggakan pengetahuannya, mengaku tidak tahu lagi. Lalu sokrates yang mengaku tak tahu, merasa bahwa ia lebih banyak tahu dari mereka yang menganggap dirinya mengetahuinya.
Socrates oleh kaum sofis dituduh telah merusak serta meracuni pikiran anak muda serta tidak mempercayai dewa kota Athena, sehingga ia dijebloskan ke penjara dan dihukum mati dengan cara minum racun. Ia bersedia melekukan hukuman itu agar bias menunjukkan bahwa yang diajarkannya maupun yang diterapkannya kepada murid-muridnya adalah benar.

B.   KAUM SOPHIS

Aliran orang-orang sofisme juga disebut dengan sofistik, yang berasal dari kata sophos (cerdik pandai). Sebutan sophis berarti sarjana atau cendekiawan, Pada abad ke-4 s.M. para sarjana atau cendekiawan tidak lagi disebut sebagai sophis tetapi filosofis, sedangkan sebutan sophis hanya dikenakan kepada guru yang berkeliling dari kota ke kota untuk mengajar. Pada perkembangan selanjutnya, sebutan sophis menjadi sebutan yang tidak harum lagi, karena kaum sophis menjajakan ilmunya untuk suatu bayaran. Para guru sophis yang berkeliling itu meminta imbalan uang dari para murid yang diajarnya.
Seperti halnya dengan kaum sophis, Socrates mengarahkan perhatiannya kepada manusia sebagai objek pemikiran filsafatnya. Tetapi Sokrates berbeda dengan kaum sophis, yang setiap mengajarkan pengetahuannya selalu memungut bayaran. Sokrates tidak pernah memungut bayaran kepada murid-muridnya. Kaum sofis ini tidak suka bila ajarannya ditentang, karena menurut mereka yang mereka ajarkan adalah benar. Sokrates kemudian menentang ajaran kaum sofis dengan ajarannya yaitu berdialog. Namun Sokrates kemudian oleh kaum sophis sendiri dituduh memberikan ajaran baru yang merusak moral para pemuda dan menentang kepercayaan Negara Atena .
Adapun mengenai dasar pengetahuan, tak ada yang sama dengan paham mereka. Tiap-tiap guru sophis menganjurkan teori sendiri. Dan teori yang dikemukakan sekarang,  besok boleh jadi tidak terpakai lagi, keadaan ini senantiasa berubah-ubah. Pada kaum sophis antara guru sofis yang satu dengan yang lain tidak ada yang sama pendiriannya tentang suatu masalah, sedangkan pokok ajaran kaum sophis adalah kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai. Tiap-tiap guru sophis mengemukakan itu sebagai pokok pendirian. Oleh karena kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai, maka tiap-tiap pendirian boleh benar dan boleh salah menurut manusia.
Pada saat Atena runtuh dan tak bercahaya lagi, begitu pula dengan kaum sofisme juga tak berpengaruh lagi seperti yang diajarkannya: semuanya sementara. Kemudian zaman kegelapan  Atena melahirkan filosofi klasika. 
Adapun guru-guru sofis, ada empat yang sangat terkemuka, diantaranya adalah :
1.      Protagoras
Berasal dari Abdera, seorang individualis yang mengemukakan orang seorang dalam segala-galanya.
2.      Gorgias
Berasal dari Leontinoi di Sisilia, seorang ahli pidato yang membatalkan segala-galanya, sebab itu ia disebut sebagai nihilis (nihil artinya tak ada).
3.      Hippias
Hippias berasal dari Elis, seorang yang memiliki banyak keragaman dalam pengetahuannya.
4.      Prodikos
Ia berasal dari Keos, sebuah pulau kecil yang dekat dengan Attika. Ia seorang moralis, tukang mengemukakan moral dengan suka mencemoohkan kepercayaan orang.

C.   PEMIKIRAN SOKRATES

Dalam kasus situasi yang kacau atau krisis itulah Sokrates tampil untuk menghadapi pengaruh kaum sophis, metode yang dipakai Sokrates untuk menghadapi kelihaian silat lidah kaum sophis itu dikenal sebagai metode dialektik-kritis (dialektika), yang mengandung arti “dialog antara dua pendirian yang bertentangan” atau juga merupakan perkembangan pemikiran dengan memakai pertemuan antar ide. Sedangkan sikap kritis itu berarti Sokrates tidak mau menerima begitu saja suatu pengertian dari orang yang dianggapnya ahli dalam bidang tersebut. Oleh karena itu, Sokrates mencari kebenaran yang tetap dengan menanya jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian. Menurutnya, kebenaran adalah relative dan kebenaran ada yang umum, sehingga mutlak benar bagi siapapun. Jalan yang ditempuhnya adalah metode induksi dan definisi, kedua-duanya itu bersangkut paut. Induksi menjadi dasar definisi. Pada Al-Qur’an telah menjelaskan serta mengajarkan manusia untuk mencari kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran itu ada. Seperti tercantum dalam Qur’an :
Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Dalam awal surat al-Baqarah menyebutkan:
Aliflaam miim, kitab(Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya;petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.

Allah juga mengingatkan, bahwa:
Kebenaran itu adalah datang dari Tuhanm, sebab itu jangan sekal-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Islam memerangi adanya kaum sofisme, terbukti bahwa Islam mewajibkan kita untuk mencari ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW. menekankan dalam sebuah hadist yakni:
            طلب العلم فريضة على كل مسلم
            Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Jalan yang ditempuh Sokrates adalah metode induksi dan definisi, kedua-duanya itu bersangkut paut. Induksi menjadi dasar definisi. Induksi disini berlainan dengan induksi sekarang, induksi paham sekarang adalah penyelidikan dimulai dengan memperhatikan yang satu-satunya dan dari situ dengan mengumpulkan, namun induksi menurut sokrates adalah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai yang umumnya dari jumlah satu-satunya, akan tetapi ia mencoba mencapai dengan contoh dan bersamaan. Dan kemudian diuji dengan saksi dan lawan saksi, sedangkan definisi yaitu pembentukan pengertian yang umum lakunya. Sedangkan Pemikiran politiknya berawal di yunani kuno, pikiran yunani secara sistematis menyelidiki watak dan jalannya intitusi politik dalam rekaman sejarah yang tercatat muncul suatu pola konsepsi sosial politik yang mendasar dalam warisan kebudayaan dan intelektual barat. Ide demokratis pun telah muncul di yunani kuno dan muncul juga problem-problem manusia dan Negara pertama kali diangkat kepermukaan, termasuk di era sokrates.

Doktrin politik sokrates bahwa “kebijakan adalah pengetahuan”, merupakan dasar pemikiran politiknya mengenai Negara. Inilah salah satu pandangan sokrates yang sangat penting dan belakangan berpengaruh pada pandangan politik muridnya, plato. Sokrates mencurahkan perhatiannya dengan sungguh-sungguh pada perkembangan metodologi atau model procedural untuk mencapai kebenaran. Baginya prinsip politik juga mendasarkan pada etika yang ia simpulkan kebajikan adalah pengetahuan. Inti sari daripada etik adalah budi ialah tahu. Siapa yang tahu akan kebaikan dengan sendirinya terpaksa berbuat kebaikan.

Sokrates juga mengajarkan tentang arti kehidupan serta kematian. Ia berkata:
“Tidak ada seorang pun yang mengetahui apa yang dinamakan maut, bias jadi maut merupakan rahmat yang terbesar bagi umat manusia, akan tetapi manusia takut kepadanya seperti ketakutan kepada suatu yang sangat buruk.”
Konsep bangsa Yunani menyatakan bahwa jiwa (ruh) merupakan cerminan dari orang yang sudah mati yang bergerak dari dunia kehidupan dan kematian. Namun ia menentangnya, ia mengatakan bahwa kematian membebaskan jiwa dari pusarannya dan jiwa sendirian meninggalkan raga dan sejauh-jauhnya menghindari segala pertalian maupun kontak dengan raga kemudian menuju ke alam yang sebenarnya.rasulullah pun bersabda: “perbanyaklah hai kamu sekalian mengingat akan pemutus tali segala kenikmatan duniawi(kametian).
 Allah berfirman dalam Surah al-Ankabut/ 29: 64 sebagai berikut:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mngetahui.”

            Pada Surah at-Taubah/ 9: 38 juga dijelaskan:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُواْمَا لَكُمْإِذَا قِيلَلَكُمُانفِرُواْفِي سَبِيلِاللّهِاثَّاقَلْتُمْإِلَىالأَرْضِ أَرَضِيتُمبِالْحَيَاةِالدُّنْيَامِنَ الآخِرَةِفَمَامَتَاعُالْحَيَاةِالدُّنْيَافِيالآخِرَةِإِلاَّقَلِيلٌ


“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”

Surat Ali Imran ayat 145:
وما كا ن لنفس ان تموت الا باذن الله كتبا مؤجلا ومن يردثواب الدنيا نؤ ته منها ومن يردثواب الاخرة نؤته منها و سنجزى الشكرين

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Dalam Gorgian, memuat pemerian Sokrates tentang hukuman yang menanti bagi orang jahat maupun baik di alam baka nantinya. Selain itu, Sokrates juga percaya akan adnya akhirat, buktinya pada saat peradilan ia berkata pada hakim-hakim bahwa alam akhirat itu nyata adanya, dan ia menunggu akan adanya kesempatan baginya untuk berbincang-bincang dengan para pembesar-pembesar zaman dahulu misalnya Argamemnon.
Pada saat Sokrates di penjara, Crito (murid setia Sokrates) sering datang mengunjungi Sokrates di penjara ( setelah putusan mati untuknya). Crito dan murid-murid lain Sokrates berencana untuk melarikan Sokrates dari penjara. Mereka juga telah menghimpun dana (uang) untuk hal itu serta untuk orang-orang yang mau menyelamatkan dan melarikan Sokrates dari penjara. Namun Sokrates menolak dan berkata tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan.

Perbuatan Sokrates ini bisa jadi teladan bila kejahatan dengan kejahatan. Dalam Al Quran menjelaskan pula bahwa kejahatan tidak dibalas dengan kejahatan pula. Dijelaskan dalam surat Al Mu’minuun ayat 96:

اد فع با لتي هي احسن السيئة نحن اعلم بما يصفون

“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.”
                        Surat Al Furqaan ayat 63, menjelaskan:
وعبا د الرحمن الذين يمشون علي الارض هونا واذا خاطبهم الجهلون قالواسلما
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”


DAFTAR PUSTAKA

 Althusser, Louis. 2007. Filsafat Sebagai Senjata Revolusi. Yogjakarta: Resist books.
Hatta, Mohammad. 1986 .Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Universitas Indonesia atau UI-press.
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Russell, Bertrand. History Of Western Philosophi. London: George Allen and UNWIN Ltd.
I.F. Stone. Tanpa tahun. Peradilan Socrates:Skandal Terbesar dalam Demokrasi Athena.
Diterjemahkan oleh Rahmah Asa Harun. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Yunus, Mahmud. 1957. Tafsir Quran Karim. Jakarta: Hidakarya Agung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar