trima kasih sudah mampir di blog saya dan jangan bosan mampir yaaa

Rabu, 12 Juni 2013

KONSEP BAIK DAN BURUK DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN


A.      Pengertian Baik Buruk
Dari segi bahasa, baik adalah terjemahan dari kata khoir ( dalam bahasa arab ) atau good ( dalam bahasa Inggris ). Dikatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dan kepuasan, kesenangan, persesuaian, dan seterusnya.
Menurut Ahmad Charris Zubair baik itu merupakan,jika tingkah laku manusia menuju kesempurnaan,kebaikan adalah nilai apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang konkret.
Dengan demikian sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan, menyenangkan atau bermartabat itu dinamakan baik. Sehingga yang dinamakan baik terkesan yakni memusat serta menuju ke suatu arah yang dapat menguntungkan dan membahagiakan manusia.
Sesuatu yang tidak berharga, tidak berguna untuk tujuan apabila yang merugikan, atau yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan adalah buruk. Dalam bahasa Arab, yang buruk itu dikenal dengan istilah syarr yang berarti tidak sempurna dalam kualitas, dibawah standard, kurang dalam nilai, tidak menyenagkan, dan sesuatu yang tercela.

Ada kategori buruk lainnya dari Ibnu ‘Arabi, yaitu kebodohan, kebohongan, ketidak harmonisan, ketidakteraturan, ketidaksesuaian perangai, dosa dan kekafiran. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa buruk adalah sesuatu yang merugikan manusia sehingga tidak tercapai tujuannya, yang kemudian tidak membawa gembira dan senang pada manusia.
Adakalanya ketika melihat suatu perbuatan, kita langsung menyatakan jika perbuatan itu buruk. Karena ketidaktahuan kita akan baik yang tersembunyi didalamnya. Ibnu ‘Arabi mencontohkannya seperti makan obat. Di sini adalah suatu kasus buruk yang nampak, seperti rasa mual yang disebabkan oleh rasa obat itu di mana pasien mencaci obatnya sebagai buruk, karena pasien tidak mengetahuinya
Didalam akhlak Islamiyah, antara baik sebagai akhlak atau cara atau tujuan sementara harus segaris atau sejalan dengan baik sebagai tujuan sementara dan tujuan akhir berada dalam satu garis lurus yaitu berdasarkan satu norma karena didalam akhlak Islamiyah ini disamping baik itu harus benar. Misalnya untuk menjadi seorang pengusaha yang kaya. Ia harus berusaha dengan jalan yang halal, tidak dengan menganiaya orang lain, tidak dengan jalan korupsi. Sebab didalam akhlak Islamiyah ada garis yang jelas antara yang boleh dan tidak boleh, antara yang boleh dilampaui atau tidak, antara halal dan haram.

B.   Ukuran Baik dan Buruk
Menurut Poedjawijatma tentang pandangan filsafat yang berkaitan denga manusia dan ini bergantung pada metafisika pada umumnya. Dalam menentukan suatu perbuatan atau hal itu baik atau buruk seharusnya sesuai dengan ukurannya. Aliran-aliran filsafat banyak mempengaruhi pemikiran akhlak serta mempengaruhi dalam penentuan baik dan buruk.
1.   Aliran Adat Istiadat (Sosialisme)
Pada aliran ini menentukan baik buruk berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh masyarakatnya. Barangsiapa yang patuh dan taat kepada adat istiadat tersebut maka orang yang bersangkutan dapat dipandang baik. Dan begitu juga sebaliknya bila ia melanggar adat istiadat, maka ia akan dipandang telah berbuat buruk.
Dalam suatu masyarakat memiliki adat istiadat yang berbeda dari yang lainnya, jadi kita tidak berhak menilai adat yang ini buruk atau adat yang itu buruk. Karena adat istiadat pada dasarnya adalh hasil budaya manusia yang bersifat relatif dan nisbi. Adanya paham adat istiadat dapat menunjukkan eksistensi dan peran moral dalam masyarakat tersebut.

2.   Aliran Hedonisme
Menurut paham ini perbuatan yang baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan,kenikmatan dan kepuasan nafsu biologis. Tetapi tidak menepis pula bila ada yang mendatangkan. Dan apabila ia disuruh memilih manakah perbuatan yang harus dilakukan maka yang dilakukan adalah mendatangkan kelezatan.Tidak ada kebaikan dalam hidup ini selain kelezatan dan tidak ada keburukan selain penderitaan.
Ada tiga sudut pandang yang menafsirkan tentang kebahagiaan:
a.   Hedonisme individualistis
Bahwa manusia hendaknya selau mencari kebahagiaan diri sepuas-puasnya dan mengorientasika seluruh sikap dan perilakunya untuk mencapai kebahagiaan itu. Aliran ini berpendapat, jika suatu keputusan baik bagi pribadinya maka disebutlah baik. Dan jika keputusan itu tidak baik baginya, maka itulah yang buruk. Dengan kata lain, keputusan yang diambil haruslah yang membawa kebahagiaan dan kenikmatan baginya.
b.   Kebahagiaan rasional
Aliran ini berpendapat, jika kebahagiaan atau kenikmatan individu haruslah berdasarkan pertimbangan akal sehat.
c.   Kebahagiaan universal
Tolak ukur kebahagiaan aliran ini adalah mengacu pada akibat perbuatan itu melahirkan kesenangan atau kebahagiaan kepada seluruh makhluk. Yang menjadi patokan adalah bukan kesenangan dirinya sendiri melainkan kebahagiaan setiap orang (universal).
3.   Aliran Intuisisme (Humanisme)
Pada aliran Humanisme berpendirian bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan naluri batiniah yang dapat membedakan sesuatu itu baik atau buruk dengan hanya selintas pandang. Jadi, sumber pengetahuan tentang suatu perbuatan mana yang baik maupun buruk adalah kekuatan naluri. Kekuatan naluri atau batiniah terkadang berbeda refleksinya karena pengaruh masa dan lingkungan, akan tetapi dasarnya tetap sama dan berakar pada tubuh manusia.
Aliran ini adalah bantahan dari aliran hedonism yang menilai dari dasar akibat suatu perbuatan yang ditimbulkan, dan tujuan hidup manusia menurut aliran ini sebagai kebaikan budi pekerti.
Akal adalah hasil perolehan, sedangkan intuisi adalah fitri dan intrinsic pada batin menusia. Semua manusia memilikinya secara primordial. Intuisi menjadi ilham manusia pada banyak hal, dan tindakan akhlaki selalu diilhami oleh intuisi.
Jadi mereka yang lebih suka dan sering mendekatkan dirinya pada Tuhan dan senantiasa membersihkan dirinya akan mempunyai intuisi yang lebih tajam daripada orang yang biasa. Dan mereka ini lebih sering dimintai pendapat atau nasihat dalam penilaian yang positif terhadap masalah yang sedang dihadapinya.
4.   Aliran Evolusi
Berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini selalu (secara berangsur-angsur) mengalami perubahan, yakni berkembang menuju kea rah kesempurnaan. Maka tujuan manusia hidup adalah menggapai kebahagiaan, sedangkan kebahagiaan selalu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi. Oleh karena itu, tidak ada suatu standar atau patokan menentukan perbuatan baik atau buruk, karena kriteria kebahagiaan berkembang mengikuti perkembangan masyarakat.
Dalam buku  The Origin Of Species, Darwin mengemukkan pendapatnya bila ada patokan di dalam terjadinya suatu evolusi, yakni:
·        Ketentuan alam (selection of nature)
·        Perjuangan hidup (struggle for life)
·        Kekal bagi yang lebih pantas (survival for the fit test)
5.   Aliran Utilitarianisme
Utilis berarti suatu hal yang berguna atau bermanfaat. Maka dalam aliran ini berpendapat bahwa jika melakukan suatu hal atau perbuatan, dan itu berguna maka dipandang sebagai perbuatan baik. Namun, jika melakukan suatu perbuatan dan itu tidak bermanfaat, maka disebut perbuatan buruk.
Dengan demikian, paham penentuan baik buruk suatu perbuatan berdasarkan nilai guna mendapatkan perhatian di masa sekarang. Selain itu, paham ini juga dapat menggunakan apa saja yang dianggapnya ada gunanya. Stuarmill adalah orang yang menganut paham ini. Ia berkebangsaan Inggris.
6.   Aliran Vitalisme
Paham ini adalah bantahan dari paham naturalism. Sebab menurut paham ini penentuan baik buruk bukan berdasarkan alam tetapi berdasarkan vitae.
Paham ini dipraktekkan para penguasa di zaman feodalisme terhadap kaum yang bodoh dan lemah. Dengan kekuatan dan kekuasaan ia mengembangkan pola hidup feodalisme, kolonialisme, dictator dan tiranik.
Aliran nvitalisme dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1)     Vitalisme pessimistis, bahwa manusia yang dilahirkan adalah celaka. Paham ini mengungkapakn manusia yang satu adalah merupakan serigala bagi manusia yang lainnya.
2)     Vitalisme optimism, bahwa hidup atau kehidupan adalah berarti pengorbanan diri. Maka mereka memandang jika hidup yang sejati adalah kesediaan dan kerelaan untuk melibatkan diri dalam setiap kesusahan.
7.   Aliran Eksistensialisme
Berpandangan bahwaeksistensi di atas dunia selalu dikaitkan pada keputusan-keputusan individu, artinya individu tersbut yang menetapkan keberadaannya yang berwujud keputusan, bila individu tidak mengambil keputusan maka tidak ada yang terjadi.
Tolak ukur paham ini adalah kebenaran yang terletak pada pribadi. Bila keputusan yang diambilnya itu baik bagi pribadinya, maka disebut baik, begitu juga sebaliknya. Maka, individu itu menentukan terhadap sesuatu yang baik dan terutama sekali bagi kepentingan dirinya sendiri.

C.   Baik dan Buruk Menurut Ajaran Islam
Menurut ajaran Islam dalam menentukan baik dan buruk itu didasarkan pada petunjuk al-Qur’an dan al-hadis. Untuk menghasilkan kebaikan yang demikian, Islam memberikan tolak ukur yang jelas, yaitu selama perbuatan yang dilakukan itu ditujukan untuk mendapatkan  keridlaan Allah yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan ikhlas.
a. Menurut aliran Ahlusunnah WalJama’ah
Aliran ini berpendapat bahwa ketentuan baik dan buruk sudah ada ketentuan dalam Al-Qur’an dan Hadits. Untuk menentukan hal yang baik dan buruk,aliran ini mendahulukan nash lalu akal.
b.   Menurut aliran Tasawwuf
Menurut ahli tasawuf, nilai baik dapat diukur dari perasaan bahagia. Dan sebaliknya, nilai buruk ditandai dengan hal yang menyengsarakan. Menurut ahli tasawwuf, baik dan buruk terkait denga kehidupan ukhrowi, jika kebaikan diperoleh didunia, maka kebaikan tersebut harus menjadi penyebab untuk memperoleh kebaikan di akhirat.
Dalam al-qur’an atau al-hadits terdapat beberapa istilah yang mengacu baik pada yang baik maupun yang buruk. Diantara beberapa istilah yang mengacu pada yang baik, sebagai berikut:
a)     Al-hasanah, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik.
b)     Thayyibah, digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberikan kelezatan kepada pancaindera dan jiwa.
c)     Khair, digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baik oleh seluruh umat manusia. Seperti berakal, adil, dll.
d)     Mahmudah, untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah SWT.
e)     Karimah, digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan akhlak yang terpuji yang ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari.
f)      Al-birr, digunakan untuk menunjukkan pada upaya memperluan atau memperbanyak melakukan perbuatan yang baik.

D.   Menganalisis Ayat Baik Dan Buruk Pada Al-Qur’an
Dalam Al-quran terdapat jika Allah menyuruh kita untuk beristiqamah, berlaku adil dalam semua hal atau urusan. Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah surat Al-a’raf ayat 29:
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)".

Dan juga pada firman Allah yang terdapat pada surat An-nahl ayat 90:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
Dalam surat diatas, Allah SWT memerintahkan berbuat adil dalam melaksanakan isi Al-quran yang menjelaskan segala aspek kehidupan manusia, serta berbuat ihsan (keutamaan). Adil berarti mewujudkan kesamaan dan keseimbangan diantara hak dan kewajiban mereka. Hak asasi  tidak boleh dikurangi disebabkan adanya kewajiban atas mereka.
Kezaliman lawan dari keadilan yang wajib dijauhi. Kebahagiaan baru dirasakan oleh manusia bilamana hak-hak mereka dijamin dalam masyarakat, hak setiap orang dihargai, dan golongan yang kuat mengayomi yang lemah. Penyimpangan dari keadilan adalah penyimpangan dari Sunah Allah menciptakan alam ini dan hal ini tentulah akan menimbulkan kekacauan dan keguncangan dalam masyarakat manusia seperti putusnya hubungan cinta kasih sesama manusia, tertanamnya dalam hati manusia rasa dendam, kebencian, iri, dengki dan sebagainya.
Semua ini akan menimbulkan permusuhan yang menuju kehancuran. Oleh karena itu agama Islam menegakkan dasar-dasar keadilan untuk memelihara kelangsungan hidup masyarakat manusia itu.

DAFTAR PUSTAKA
Hafidah Febryanti, “Macam-macam Aliran Baik dan Aliran Buruk”, diakses dari http://hafidah-febry.blogspot.com/2011/05/macam-macam-aliran-baik-dan-aliran.html pada Tanggal 25 May 2011
Lubis, Suhrawardi K. 1994. Etika Profesi Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.
Mahjuddin. 2010.  Akhlaq Tasawwuf. Jakarta: Kalam Mulia.
Mutahhari, Murthada. 1995.  Falsafah Akhlak. Bandung: Pustaka Hidayah.
Nata, Abuddin. 1996.  Akhlak Tasawuf . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Poedjawijatna. 1982. Etika Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: Bina Aksara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar